Minggu, 20 November 2011

Kabut Hitam Senja Hari

Udara pagi cerah. Matahari bersinar terang ketika kulangkahkan kakiku menapaki halaman sekolah tempatku bekerja. Sambil menebar sejuta senyum kepada setiap guru dan karyawan yang kujumpai, aku bersalaman membangun keakraban. Suasana kekeluargaan sangat kurasakan di sekolah tempatku bekerja.
Disana sini kulihat hiruk pikuk calon siswa bersama orang tuanya mencari informasi persyaratan mendaftarkan diri sebagai calon siswa di SMA tempatku bekerja. Suasana penerimaan siswa baru tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah mendaftarkan diri ke panitia PSB calon siswa dan orang tuanya tidak langsung pulang, tetapi berjubel didepan layar monitor untuk melihat peringkat mereka masing-masing. Sesekali terdengar tawa mereka memecah sunyi.
Tawa mereka sering kali memudarkan konsentrasiku bekerja. Aku hanya menandatangani beberapa surat dan legalisir ijazah.  Dari jendela kaca ruang kepala kulihat panitia dengan sibuk melayani para calon siswa.
Aku merasa beruntung meskipun terlahir sebagai anak desa, anak seorang petani miskin namun bisa berhasil mendapatkan pekerjaan sebagaia guru SMA. Bahkan kini aku sudah diangkat sebagai kepala sekolah. Syukur Alhamdulillah, aku terlahir sebagai seorang anak yang penurut, tidak banyak tingkah dan berlagu. Aku tak tahu apakah lantaran itu orang tuaku memberikan nama yang sederhana padaku, ‘Gunadi’. Menurut pengetahuanku nama Jawa seperti namaku merupakan kependekan dari ‘guna’ dan ‘adi’, yang maksudnya adalah baik dan berguna. Kadang aku percaya juga pada pepatah jawa yang menyatakan bahwa “Asmo Kinaryo Jopo”. Nama yang diberikan kepada anak adalah sebuah doa dan pengharapan.
“Selamat pagi, Pak! Ada telepon.”, kata seorang karyawan tata usaha sedikit mengagetkanku.
“Halo, selamat pagi.”, sapaku lembut.
“Hai, mas Gun. Eh, pak kepala, dapatkah saya minta tolong. Itu saya mau mendaftarkan anak saya disekolah bapak. Pokoknya diterima, lho!”
Kata-kata itu terus saja nerocos bagi ribuan pelor yang dimuntahkan dari larasnya, tanpa sedikitpun menghiraukan aku yang terbengong-bengong dalam tanya. Aku benar-benar bertanya-tanya dalam hatiku mengapa ia memanggilku Mas, meskipun akhirnya diralatnya sendiri.
“Gimana, bisa ya? Pokoknya harus bisa!”
“Maaf ya, Bu. Pendaftaran siswa baru sepenuhnya sudah ditangani oleh panitia. Jadi, saya tidak mempunyai kewenangan menolak atau pun memerima.”, jawabku dengan halus.
“Alah, Mas Gun lupa, ya sama saya?” Umpatnya tanpa ampun.
“Maaf, ini siapa, ya?”
“Anggi Mas, aku Anggi. Aku pulang ke Indonesia kemarin sore. Pokoknya aku titip, lho!”
Serasa bumi tempatku berpijak terbelah menjadi dua, menganga dalam sekali. Dan aku terperosok kedalamnya. Begitu menyeramkan. Aku sungguh tak menduga bila wanita yang baru saja meneleponku adalah Anggi. Satu nama yang telah ku kubur. Lama sekali. Lima belas tahun terkubur bongkahan masa remajaku. Sedih rasanya mengingat kenangan itu.
Anggi gadis pujaan hatiku harus pergi meninggalkan ku karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Seorang pengusaha ekspor-impor berdartah indo, keturunan Jerman mempersunting Anggi. Uang yang bergelimang telah menggoda ioman orang tua Anggi.
“Anggi harus kawin dengan Nak Prsetyo. Tidak boleh tidak. Dialah yang akan dapat membahagiakan Anggi. Bukan kamu!”, bentak ayah Anggi ketuika aku berusaha meyakinkan bahwa antara kami saling mencintai.
Akhirnya kami pun menyerah pada takdir. Aku berpisah dengan Anggi, orang yang sangat kusayangi, kucintai dengan segenap hatiku.
Dalam ketidak tentuan sikapku itu aku mengawini Windi, gadis yang disarankan ibuku. Aku hidup bahagia dengan Windi dan ketiga anak kami.
Dua bulan yang lalu kudengar kabar bahwa Prasetyo, suami Anggi meninggal akibat kecelakaan. Pesawat yang ditumpanginya jatuh terbakar.
---
Kepalaku langsung tersa berat dan pening, tapi aku masih bisa menguasai diriku. Anggi kembali membuat hidupku kembali berguncang. Serasa membuka luka lama. Ingatan – Ingatan itu kembali berhamburan bagai kertas terbang di pikiranku.
“Mas, halo Mas? Masih denger suaraku kan?” Suara Anggi yang jernih dan lembut membuyarkan lamunanku.
“I-iya halo saya masih dengar.”, aku tergagap karena kegugupanku.
“Hm, ya sudah, biar lebih enak dan jelas ngomongnya, besok saya ke sekolah Mas aja, jam sembilan. Oke Mas?”, ujar Anggi segera memutuskan perkara.
“Baiklah. Insya Allah saya bisa.”, ujarku. Rasanya tak karuan jantungku berdetak.
“Oke.”
‘Tut’ telepon terputus.
---
Kuseret langkahku menuju pintu masuk rumah. Masih terpikir Anggi. Bagaimana bisa setelah lima belas tahun lamanya, Anggi tahu tentang aku yang kini telah menjadi kepala sekolah. Tepat di depan pintu masuk, kurasakan tanganku bergetar ketika memegang handle pintu. Setelah masuk ke rumah, kurebahkan tubuhku di kursi ruang tamu, seperti biasa.
“Assalamu‘alaikum, papa pulang!”, ujarku tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Windi menyambutku dengan senyum merekah manis yang sejenak dapat membuatku lupa tentang semua masalah hidupku termasuk, Anggi. sambil membawa teh manis ditangannya, Windi lantas duduk disampingku memijat lenganku dan melepas sepatuku.
“Gimana pah tadi di sekolah, lancar-lancar aja kan?”, ujar Windi. Pertanyaan itu langsung memaksa otakku untuk memutar kaleidoskopnya, memutar kenangan tentang ANGGI.
“Baik kok, ga ada masalah. Anak-anak gimana?”, ketiga anakku yang sangat kusayangi. Tyas, kelas 1 SMA. Agus, kelas 2 SMP, dan Wicak, kelas 6 SD. mereka semua malaikat yang selalu menenangkan hatiku dan menghibur aku ketika aku sedang terpuruk dan butuh pelita hidup. Alhamdulillah, semuanya anak yang baik dan cerdas. Tyas masuk SMA dengan peringkat ke-4 dari sekian banyak peserta didik lainnya, sedang Agus kemarin baru saja menjadi juara kedua lomba karya ilmiah di provinsi, mewakili kota ini, dan Wicak, selalu meraih ranking 1 di kelasnya.
“Itu lagi pada nonton TV di dalem.” Ujar Windi kemudian masuk ke dalam menyiapkan makas siang untuk kami.
Aku hanya menengok mereka dari ruang tamu. Tampak bahagia dan ceria. Sementara aku binbang dan galau.
---
Pagi itu aku kembali kesekolah lagi. Mengenakan baju dinasku lagi. Melangkah keruangan itu lagi. Lagi, lagi dan lagi. Rutinitasku setiap hari. Kembali aku duduk dikursi kulit hitamku. Mengecek surat dan berkas yang baru saja datang ke meja kerjaku.
Tiba – tiba seseorang mengetuk pintuku. Kemudian masuk seorang petugas tata usaha.
“Permisi. Bapak, ada tamu. Katanya kemarin udah bikin janji.” Itu pasti Anggi. Harus berbuat apa aku? Sejuta pertanyaan menggantung dibenakku.
“Iya, suruh masuk aja.”
Kemudian seorang wanita masuk. Rambutnya lurus sebahu. Kakinya jenjang putih serasi dengan jas marun – nya. Anggi. Wanita itu datang lagi dihidupku.
“Mas Gun apa kabar?” Katanya lantas menyalamiku.
“Baik. Ayo silahkan duduk.”
“Wah sekarang tambah makmur ya! Hahaha. Gimana kabar mbak Windi sama anak-anak?”
“Baik, Alhamdulillah. Anakmu gimana?”
“Yah, lagi ribet nih mas. Abis pindah dari Jerman bingung mau cari sekolah. Soalnya dia kurang bisa bahasa Indonesia mas.”
“Oh, gitu. Oh ya siapa namanya? Fendy?”
“Randy. Itu anaknya diluar. Gimana mas? Tolonglah permintaanku yang kemaren dikabulin. Bantulah mas.bisakan mas? Pokoknya saya cuma mau denger kata ‘iya’ hlo.” Katanya begitu menghipnotisku.
Tak ada kata lain yang keluar dari mulutku selain kata ‘iya’.
“Nah, kalo gitu aku kan bisa tenang mas. Hahaha. Oh ya. Boleh minta nomor ponselnya nggak mas? Soalnya aku nggak enak kalo terus-terusan mau telepon nomer sekolah. Apalagi kalo ada masalah sama Randy kan, nanti bisa langsung dikonsultasiin. Bolahkan mas?”
Serta merta ku berikan nomorku padanya tanpa berpikir ulang lagi. Aku selalu meng-iya-kan segala omongan Anggi dan selau begitu sejak pertama aku bertemu hingga sekarang.
---
Hari itu genap 2 bulan semenjak Anggi duduk didalam ruanganku. Kami pun jadi sering berkirim pesan singkat dan mengulas cerita lama. Tak terasa aku dan Anggi menjalin hubungan, yang sebenarnya bila kusadari tak baik bagi hubunganku dengan Windi. Dirumah aku menjadi tempramen dan mengesalkan. Namun lain halnya ketika aku berada didepan Anggi.  Didepannya aku selalu menjadi kucing penurut dan selalu meng-iya-kan apa yang dia minta.
Hari ini Anggi mengajak bertemu disebuah rumah makan didekat pusat kota.
“Tumben ngajakin ketemu. Ada angin apa?” Ujarku membuka pembicaraanh.
“Langsung aja mas, aku pengen kamu cerai dengan istrimu.”, ujarnya begitu berat sambil tertunduk. “Aku nggak bisa selamannya jadi selingkuhanmu mas.”, sambungnya.
Aku bisa merasakan air matanya  membasahi pundakku ketika ia memelukku. Aku semakin diberatkan oleh perasaan bergejolakku yang membuat aku mengingat betapa dahulu perjuangan cintaku yang terhalang oleh restu karena aku sebelumnya bukanlah siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan, mereka berdua terlalu takut jikalau anaknya tidak bisa bahagia karenaku. Sekarang aku telah menjadi ‘orang’ dan kedua orang tua Anggi bangga kepadaku dan restu meluncur begitu saja bagai tiada beban dari kedua orang tuanya. Bagaimana aku tidak bimbang dan galau? Tapi kini aku telah mempunyai seorang istri cantik, yang telah memberiku tiga anak yang manis, baik, dan mengagumkan.
“Aku bimbang nggi, aku tidak bisa memilihnya begitu saja. Ini membutuhkan banyak pertimbangan. Apalagi anakku sudah besar-besar. Pasti mereka mengerti apa yang sedang terjadi. Mata mereka, hati mereka, tidak bisa dibohongi Anggi.”
Aku punya Windi, Tyas, Agus, dan Wicak kini aku bahagia. namun dengan datangnya Anggi dihidupku rasanya semua berubah menjadi indah, lebih indah dan sangat indah karena kehadiran Anggi membawa serpihan jiwaku yang hilang, mengobati luka dan menyembuhkannya dengan cinta yang baru. kuputuskan. aku ingin menyingkirkan Windi dan berbahagia dengan Anggi tapi bagaimana caranya?
---
Aku benar – benar membulatkan tekad untuk menyingkirkan mereka dari dunia. Bagaimana pun caranya yang pentng aku harus bahagia dengan Anggi. Saat-saat seperti ini sudah kutunggu sekian lama dengan pengorbanan yang luar biasa. Aku tidak mau merusaknya. Aku harus membunuh mereka. Membunuh. Ya itulah satu-satunya cara untuk menyingkirkan mereka.
---
Simbahan darah berceceran dimana-mana. Bau anyir memenuhi seluruh rumah. Pekerjaanku sudah usai. Kuputuskan untuk segera menemui Anggi dan bercerita jika sekarang aku dan dirinya bisa hidup tenang.
04.12 WIB
Aku berlari menuju rumah Anggi. Masih dengan bajuku yang bersimbah darah. Tak peduli 2 km jauh rumah Anggi, aku ingin segera menemuinya. Tak peduli walau siang ataupun malam.
04.44 wib
Aku sampai dirumah Anggi dan segera kuketuk pintu rumahnya. Anggi pun membukakan pintu untukku.
“Anggi aku berhasil membunuh mereka.”, ujarku dengan sangat sumringah. Namun lain halnya dengan Anggi. Ia sangat terkejut dan shok. Seakan tak bisa menerima keadaan. Ia memaki-makiku dengan berbagai kata. Sejurus kemudian aku sadar perbuatan ku keliru. Anggi tak bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang Pembunuh. Ia tak mau mengenalku lagi. Serta merta aku diusirnya dari rumahnya.
Namun aku bersikeras untuk tetap bersama Anggi. Anggi milikku satu-satunya. Hanya Anggi dan Anggi saja.
Ketika Anggi menjerit seketika itu pula orang-orang kampung datang dan bersiap memukuliku. Apalagi setelah mendengar Anggi berkata,”tolong, dia seorang pembunuh!”, kulihat mata-mata merka semakin berkilat untuk segera menghakimiku. Aku berlari menghindari amukan mereka. Namun naas ketika sebuah batu mengenai kepalaku dan akupun terjatuh mereka segera memukuliku dan semauannya tiba-tiba menjadi gelap.
---
Aku terjaga. Hay, aku dimana? Semuanya serba putih dan... Windi. kulihat Windi tertidur di samping ranjangku. wajahnya begitu sendu dan kuyu tak bersemangat. Ia tertidur mungkin gara-gara kecapaian.
“Mamah... ini dimana?” ujarku lirih. Kepalaku terasa berat dan seluruh tubuhku tersa sakit.
“Pah, papa udah sadar? Alhamdulillah Ya Allah!” ujarnya yang kemudian mencium keningku. Kemudian muncul Tyas dan Agus yang tergopoh-gopoh menemui aku.
“Papa!” ujar mereka kemudian memelukku. Kurasakan kehangatan keluarga ini lagi. Alhamdulilah pembunuhan itu hanyalah sebuah mimpi. Ya Tuhan aku khilaf, aku bertaubat atas perbuatanku. Maafkan aku tuhan.
Seketika, aku menangis mengingat betapa jahatnya diriku terhadap keluargaku.
“Mah, Tyas, Agus… papa sayang kalian. Papa ga mau kehilangan kalian.”, ujarku serya memeluk mereka lagi.
“Wicak mana?” Aku celingukan mencari si buyung kecilku itu.
“Wicak meninggal dunia pa.” ujar Tyas yang sangat membuat dadaku sesak.
Apa maksudnya bicara seperti itu? tidak mungkin!
“Tyas!! Maksudmu apa ngomong seperti itu?!!”
“Pa, waktu papa jemput Wicak tiga minggu yang lalu, sebuah mobil datang dari arah yang berlawanan menabrak papa yang ketika itu memakai sepeda motor.”, Tyas mengulas lagi kisah nyata yang kualami itu. Aku segera teringat kala itu sebuah mobil memang datang dan menabrak kami. Sepertinya mobil tersebut rem blong dan sang pengemudi tidak dapat mengendalikan laju mobil tersebut. Ketika tabrakan itu terjadi, Wicak yang tidak menggunakan helm terlempar dan begitu juga diriku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa.
Aku menangis sejadi-jadinya dan meratapi kepergian Wicak. Anakku yang paling kusayang. Yang paling ceria dan yang selalu menjadi bahan ejekan dikeluarga. Kini tiada lagi senyum Wicak menghisai duniaku. Semoga kau tenang dialam sana nak. Papa selalu menyayangimu.
Kupeluk keluargaku itu lagi. Ya Tuhan aku benar-benar khilaf, dan kini aku berjanji akan menjaga hartaku ini, ingin menjaga keluargaku ini. Ya Tuhan aku tak mau kehilangan mereka meskipun Anggi yang meminta. Betapa bodohnya aku jika aku berlaku biadap seperti itu hanya dikarenakan nafsuku semata. Maafkan aku Tuhan, aku tlah bertaubat.
Bodohnya aku jika menghancurkan kesempurnaan keluargaku ini,  yang telah kubangun sedikit demi sedikit. Aku mencintai kalian. Aku menyayangi kalian. Kuputuskan untuk benar-benra menutup kisahku dengan Anggi. Usai sudah ceritaku dengan Anggi. Hanya keluargaku saja yang dapat memenuhi ruang dihatiku. Semoga selalu begitu dan selamanya begitu. Amin.
---

TAMAT

1 komentar:

  1. hak cipta cerpen ini dimiliki oleh Dhimas Sriyanto S. Pd., M. Pd.

    BalasHapus