Disana sini kulihat hiruk pikuk calon siswa bersama orang tuanya mencari
informasi persyaratan mendaftarkan diri sebagai calon siswa di SMA tempatku
bekerja. Suasana penerimaan siswa baru tahun ini memang berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya. Setelah mendaftarkan diri ke panitia PSB calon siswa
dan orang tuanya tidak langsung pulang, tetapi berjubel didepan layar monitor
untuk melihat peringkat mereka masing-masing. Sesekali terdengar tawa mereka
memecah sunyi.
Tawa mereka sering kali memudarkan konsentrasiku bekerja. Aku hanya
menandatangani beberapa surat dan legalisir ijazah. Dari jendela kaca ruang kepala kulihat
panitia dengan sibuk melayani para calon siswa.
Aku merasa beruntung meskipun terlahir sebagai anak desa, anak seorang
petani miskin namun bisa berhasil mendapatkan pekerjaan sebagaia guru SMA. Bahkan
kini aku sudah diangkat sebagai kepala sekolah. Syukur Alhamdulillah, aku
terlahir sebagai seorang anak yang penurut, tidak banyak tingkah dan berlagu.
Aku tak tahu apakah lantaran itu orang tuaku memberikan nama yang sederhana
padaku, ‘Gunadi’. Menurut
pengetahuanku nama Jawa seperti namaku merupakan kependekan dari ‘guna’ dan ‘adi’, yang maksudnya adalah baik dan berguna. Kadang aku percaya
juga pada pepatah jawa yang menyatakan bahwa “Asmo Kinaryo Jopo”. Nama yang diberikan kepada anak adalah sebuah
doa dan pengharapan.
“Selamat pagi, Pak! Ada telepon.”, kata seorang karyawan tata usaha
sedikit mengagetkanku.
“Halo, selamat pagi.”, sapaku lembut.
“Hai, mas Gun. Eh, pak kepala, dapatkah saya minta tolong. Itu saya mau
mendaftarkan anak saya disekolah bapak. Pokoknya diterima, lho!”
Kata-kata itu terus saja nerocos bagi ribuan pelor yang dimuntahkan dari
larasnya, tanpa sedikitpun menghiraukan aku yang terbengong-bengong dalam
tanya. Aku benar-benar bertanya-tanya dalam hatiku mengapa ia memanggilku Mas,
meskipun akhirnya diralatnya sendiri.
“Gimana, bisa ya? Pokoknya harus bisa!”
“Maaf ya, Bu. Pendaftaran siswa baru sepenuhnya sudah ditangani oleh
panitia. Jadi, saya tidak mempunyai kewenangan menolak atau pun memerima.”,
jawabku dengan halus.
“Alah, Mas Gun lupa, ya sama saya?” Umpatnya tanpa ampun.
“Maaf, ini siapa, ya?”
“Anggi Mas, aku Anggi. Aku pulang ke Indonesia kemarin sore. Pokoknya
aku titip, lho!”
Serasa bumi tempatku berpijak terbelah menjadi dua, menganga dalam
sekali. Dan aku terperosok kedalamnya. Begitu menyeramkan. Aku sungguh tak
menduga bila wanita yang baru saja meneleponku adalah Anggi. Satu nama yang
telah ku kubur. Lama sekali. Lima belas tahun terkubur bongkahan masa remajaku.
Sedih rasanya mengingat kenangan itu.
Anggi gadis pujaan hatiku harus pergi meninggalkan ku karena dipaksa
kawin oleh orang tuanya. Seorang pengusaha ekspor-impor berdartah indo, keturunan
Jerman mempersunting Anggi. Uang yang bergelimang telah menggoda ioman orang
tua Anggi.
“Anggi harus kawin dengan Nak Prsetyo. Tidak boleh tidak. Dialah yang
akan dapat membahagiakan Anggi. Bukan kamu!”, bentak ayah Anggi ketuika aku
berusaha meyakinkan bahwa antara kami saling mencintai.
Akhirnya kami pun menyerah pada takdir. Aku berpisah dengan Anggi, orang
yang sangat kusayangi, kucintai dengan segenap hatiku.
Dalam ketidak tentuan sikapku itu aku mengawini Windi, gadis yang
disarankan ibuku. Aku hidup bahagia dengan Windi dan ketiga anak kami.
Dua bulan yang lalu kudengar kabar bahwa Prasetyo, suami Anggi meninggal
akibat kecelakaan. Pesawat yang ditumpanginya jatuh terbakar.
Kepalaku langsung tersa berat dan pening, tapi aku masih bisa menguasai
diriku. Anggi kembali membuat hidupku kembali berguncang. Serasa membuka luka
lama. Ingatan – Ingatan itu kembali berhamburan bagai kertas terbang di pikiranku.
“Mas, halo Mas? Masih denger suaraku kan?” Suara Anggi yang jernih dan
lembut membuyarkan lamunanku.
“I-iya halo saya masih dengar.”, aku tergagap karena kegugupanku.
“Hm, ya sudah, biar lebih enak dan jelas ngomongnya, besok saya ke
sekolah Mas aja, jam sembilan. Oke Mas?”, ujar Anggi segera memutuskan perkara.
“Baiklah. Insya Allah saya bisa.”, ujarku. Rasanya tak karuan jantungku
berdetak.
“Oke.”
‘Tut’ telepon terputus.
Kuseret langkahku menuju pintu masuk rumah. Masih terpikir Anggi.
Bagaimana bisa setelah lima belas tahun lamanya, Anggi tahu tentang aku yang
kini telah menjadi kepala sekolah. Tepat di depan pintu masuk, kurasakan
tanganku bergetar ketika memegang handle pintu. Setelah masuk ke rumah, kurebahkan
tubuhku di kursi ruang tamu, seperti biasa.
“Assalamu‘alaikum, papa pulang!”, ujarku tetap sama seperti hari-hari
sebelumnya. Windi menyambutku dengan senyum merekah manis yang sejenak dapat membuatku
lupa tentang semua masalah hidupku termasuk, Anggi. sambil membawa teh manis
ditangannya, Windi lantas duduk disampingku memijat lenganku dan melepas
sepatuku.
“Gimana pah tadi di sekolah, lancar-lancar aja kan?”, ujar Windi.
Pertanyaan itu langsung memaksa otakku untuk memutar kaleidoskopnya, memutar
kenangan tentang ANGGI.
“Baik kok, ga ada masalah. Anak-anak gimana?”, ketiga anakku yang sangat
kusayangi. Tyas, kelas 1 SMA. Agus, kelas 2 SMP, dan Wicak, kelas 6 SD. mereka
semua malaikat yang selalu menenangkan hatiku dan menghibur aku ketika aku
sedang terpuruk dan butuh pelita hidup. Alhamdulillah, semuanya anak yang baik
dan cerdas. Tyas masuk SMA dengan peringkat ke-4 dari sekian banyak peserta
didik lainnya, sedang Agus kemarin baru saja menjadi juara kedua lomba karya
ilmiah di provinsi, mewakili kota ini, dan Wicak, selalu meraih ranking 1 di
kelasnya.
“Itu lagi pada nonton TV di dalem.” Ujar Windi kemudian masuk ke dalam
menyiapkan makas siang untuk kami.
Aku hanya menengok mereka dari ruang tamu. Tampak bahagia dan ceria. Sementara
aku binbang dan galau.
Pagi itu aku kembali kesekolah lagi. Mengenakan baju dinasku lagi.
Melangkah keruangan itu lagi. Lagi, lagi dan lagi. Rutinitasku setiap hari.
Kembali aku duduk dikursi kulit hitamku. Mengecek surat dan berkas yang baru
saja datang ke meja kerjaku.
Tiba – tiba seseorang mengetuk pintuku. Kemudian masuk seorang petugas tata
usaha.
“Permisi. Bapak, ada tamu. Katanya kemarin udah bikin janji.” Itu pasti Anggi.
Harus berbuat apa aku? Sejuta pertanyaan menggantung dibenakku.
“Iya, suruh masuk aja.”
Kemudian seorang wanita masuk. Rambutnya lurus sebahu. Kakinya jenjang
putih serasi dengan jas marun – nya. Anggi. Wanita itu datang lagi dihidupku.
“Mas Gun apa kabar?” Katanya lantas menyalamiku.
“Baik. Ayo silahkan duduk.”
“Wah sekarang tambah makmur ya! Hahaha. Gimana kabar mbak Windi sama
anak-anak?”
“Baik, Alhamdulillah. Anakmu gimana?”
“Yah, lagi ribet nih mas. Abis pindah dari Jerman bingung mau cari
sekolah. Soalnya dia kurang bisa bahasa Indonesia mas.”
“Oh, gitu. Oh ya siapa namanya? Fendy?”
“Randy. Itu anaknya diluar. Gimana mas? Tolonglah permintaanku yang
kemaren dikabulin. Bantulah mas.bisakan mas? Pokoknya saya cuma mau denger kata
‘iya’ hlo.” Katanya begitu menghipnotisku.
Tak ada kata lain yang keluar dari mulutku selain kata ‘iya’.
“Nah, kalo gitu aku kan bisa tenang mas. Hahaha. Oh ya. Boleh minta
nomor ponselnya nggak mas? Soalnya aku nggak enak kalo terus-terusan mau
telepon nomer sekolah. Apalagi kalo ada masalah sama Randy kan, nanti bisa
langsung dikonsultasiin. Bolahkan mas?”
Serta merta ku berikan nomorku padanya tanpa berpikir ulang lagi. Aku
selalu meng-iya-kan segala omongan Anggi dan selau begitu sejak pertama aku
bertemu hingga sekarang.
Hari itu genap 2 bulan semenjak Anggi duduk didalam ruanganku. Kami pun
jadi sering berkirim pesan singkat dan mengulas cerita lama. Tak terasa aku dan
Anggi menjalin hubungan, yang sebenarnya bila kusadari tak baik bagi hubunganku
dengan Windi. Dirumah aku menjadi tempramen dan mengesalkan. Namun lain halnya
ketika aku berada didepan Anggi.
Didepannya aku selalu menjadi kucing penurut dan selalu meng-iya-kan apa
yang dia minta.
Hari ini Anggi mengajak bertemu disebuah rumah makan didekat pusat kota.
“Tumben ngajakin ketemu. Ada angin apa?” Ujarku membuka pembicaraanh.
“Langsung aja mas, aku pengen kamu cerai dengan istrimu.”, ujarnya
begitu berat sambil tertunduk. “Aku nggak bisa selamannya jadi selingkuhanmu
mas.”, sambungnya.
Aku bisa merasakan air matanya
membasahi pundakku ketika ia memelukku. Aku semakin diberatkan oleh
perasaan bergejolakku yang membuat aku mengingat betapa dahulu perjuangan
cintaku yang terhalang oleh restu karena aku sebelumnya bukanlah siapa-siapa
dan tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan, mereka berdua terlalu takut jikalau
anaknya tidak bisa bahagia karenaku. Sekarang aku telah menjadi ‘orang’ dan
kedua orang tua Anggi bangga kepadaku dan restu meluncur begitu saja bagai
tiada beban dari kedua orang tuanya. Bagaimana aku tidak bimbang dan galau?
Tapi kini aku telah mempunyai seorang istri cantik, yang telah memberiku tiga
anak yang manis, baik, dan mengagumkan.
“Aku bimbang nggi, aku tidak bisa memilihnya begitu saja. Ini membutuhkan
banyak pertimbangan. Apalagi anakku sudah besar-besar. Pasti mereka mengerti
apa yang sedang terjadi. Mata mereka, hati mereka, tidak bisa dibohongi Anggi.”
Aku punya Windi, Tyas, Agus, dan Wicak kini aku bahagia. namun dengan
datangnya Anggi dihidupku rasanya semua berubah menjadi indah, lebih indah dan
sangat indah karena kehadiran Anggi membawa serpihan jiwaku yang hilang,
mengobati luka dan menyembuhkannya dengan cinta yang baru. kuputuskan. aku
ingin menyingkirkan Windi dan berbahagia dengan Anggi tapi bagaimana caranya?
Aku benar – benar membulatkan tekad untuk menyingkirkan mereka dari
dunia. Bagaimana pun caranya yang pentng aku harus bahagia dengan Anggi.
Saat-saat seperti ini sudah kutunggu sekian lama dengan pengorbanan yang luar
biasa. Aku tidak mau merusaknya. Aku harus membunuh mereka. Membunuh. Ya itulah
satu-satunya cara untuk menyingkirkan mereka.
Simbahan darah berceceran dimana-mana. Bau anyir memenuhi seluruh rumah.
Pekerjaanku sudah usai. Kuputuskan untuk segera menemui Anggi dan bercerita
jika sekarang aku dan dirinya bisa hidup tenang.
04.12 WIB
Aku berlari menuju rumah Anggi. Masih dengan bajuku yang bersimbah
darah. Tak peduli 2 km jauh rumah Anggi, aku ingin segera menemuinya. Tak
peduli walau siang ataupun malam.
04.44 wib
Aku sampai dirumah Anggi dan segera kuketuk pintu rumahnya. Anggi pun
membukakan pintu untukku.
“Anggi aku berhasil membunuh mereka.”, ujarku dengan sangat sumringah.
Namun lain halnya dengan Anggi. Ia sangat terkejut dan shok. Seakan tak bisa menerima keadaan. Ia memaki-makiku dengan
berbagai kata. Sejurus kemudian aku sadar perbuatan ku keliru. Anggi tak bisa
menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang Pembunuh. Ia tak mau mengenalku
lagi. Serta merta aku diusirnya dari rumahnya.
Namun aku bersikeras untuk tetap bersama Anggi. Anggi milikku
satu-satunya. Hanya Anggi dan Anggi saja.
Ketika Anggi menjerit seketika itu pula orang-orang kampung datang dan
bersiap memukuliku. Apalagi setelah mendengar Anggi berkata,”tolong, dia
seorang pembunuh!”, kulihat mata-mata merka semakin berkilat untuk segera
menghakimiku. Aku berlari menghindari amukan mereka. Namun naas ketika sebuah
batu mengenai kepalaku dan akupun terjatuh mereka segera memukuliku dan
semauannya tiba-tiba menjadi gelap.
Aku terjaga. Hay, aku dimana? Semuanya serba putih dan... Windi. kulihat
Windi tertidur di samping ranjangku. wajahnya begitu sendu dan kuyu tak
bersemangat. Ia tertidur mungkin gara-gara kecapaian.
“Mamah... ini dimana?” ujarku lirih. Kepalaku terasa berat dan seluruh
tubuhku tersa sakit.
“Pah, papa udah sadar? Alhamdulillah Ya Allah!” ujarnya yang kemudian mencium
keningku. Kemudian muncul Tyas dan Agus yang tergopoh-gopoh menemui aku.
“Papa!” ujar mereka kemudian memelukku. Kurasakan kehangatan keluarga
ini lagi. Alhamdulilah pembunuhan itu hanyalah sebuah mimpi. Ya Tuhan aku
khilaf, aku bertaubat atas perbuatanku. Maafkan aku tuhan.
Seketika, aku menangis mengingat betapa jahatnya diriku terhadap
keluargaku.
“Mah, Tyas, Agus… papa sayang kalian. Papa ga mau kehilangan kalian.”,
ujarku serya memeluk mereka lagi.
“Wicak mana?” Aku celingukan mencari si buyung kecilku itu.
“Wicak meninggal dunia pa.” ujar Tyas yang sangat membuat dadaku sesak.
Apa maksudnya bicara seperti itu? tidak mungkin!
“Tyas!! Maksudmu apa ngomong seperti itu?!!”
“Pa, waktu papa jemput Wicak tiga minggu yang lalu, sebuah mobil datang
dari arah yang berlawanan menabrak papa yang ketika itu memakai sepeda motor.”,
Tyas mengulas lagi kisah nyata yang kualami itu. Aku segera teringat kala itu
sebuah mobil memang datang dan menabrak kami. Sepertinya mobil tersebut rem
blong dan sang pengemudi tidak dapat mengendalikan laju mobil tersebut. Ketika
tabrakan itu terjadi, Wicak yang tidak menggunakan helm terlempar dan begitu
juga diriku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa.
Aku menangis sejadi-jadinya dan meratapi kepergian Wicak. Anakku yang
paling kusayang. Yang paling ceria dan yang selalu menjadi bahan ejekan dikeluarga.
Kini tiada lagi senyum Wicak menghisai duniaku. Semoga kau tenang dialam sana
nak. Papa selalu menyayangimu.
Kupeluk keluargaku itu lagi. Ya Tuhan aku benar-benar khilaf, dan kini
aku berjanji akan menjaga hartaku ini, ingin menjaga keluargaku ini. Ya Tuhan aku
tak mau kehilangan mereka meskipun Anggi yang meminta. Betapa bodohnya aku jika
aku berlaku biadap seperti itu hanya dikarenakan nafsuku semata. Maafkan aku Tuhan,
aku tlah bertaubat.
Bodohnya aku jika menghancurkan kesempurnaan keluargaku ini, yang telah kubangun sedikit demi sedikit. Aku
mencintai kalian. Aku menyayangi kalian. Kuputuskan untuk benar-benra menutup
kisahku dengan Anggi. Usai sudah ceritaku dengan Anggi. Hanya keluargaku saja
yang dapat memenuhi ruang dihatiku. Semoga selalu begitu dan selamanya begitu.
Amin.
TAMAT

hak cipta cerpen ini dimiliki oleh Dhimas Sriyanto S. Pd., M. Pd.
BalasHapus